LEMBAGA PESANTREN : MANA YANG DIKEDEPANKAN GENGSI ATAU PROGRES ??

 

D

alam sebuah kesempatan penulis pernah dihadapi dua hal yang menurut penulis cukup bertolak belakang, dalam skala yang kecil seperti azan semisal, cenderung ditugasi azan adalah santri yang memiliki suara bagus ketimbang santri yang belajar azan dan ingin bisa. Sehingga terjadilah sebuah ketimpangan antara klaster santri pintar dan taraf belajar. kita mengakui bahwa dalam kehidupan ini tidak selalu tentang hitam dan putih, tentang baik dan jahat, tetapi ada benang antara hitam dan putih yang berwarna abu – abu.

Jika disodorkan dalam dua hal yang sama sama memiliki kelebihan dan kekurangan -tentunya semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan– satu santri memiliki kelebihan secara intelektual serta suara namun memiliki akhlak yang tidak terpuji, namun satu santri memiliki kesungguhan dan kejujuran namun perlu dibimbing dalam masalah nada dan suara ketika azan. Maka sebagai pendidik hendaknya memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda dengan disesuaikan kebutuhan yang diperlukan.

Tentu terasa naif jika para santri yang cenderung tidak berakhlak dititipi terus hal yang bersifat struktural dalam lingkup pesantren semisal ketua organisasi santri. Sebab sebagai pemimpin para santri hendaknya hal pertama yang dicerminkan adalah akhlak Al - Hasanah baru kemudian disusul oleh integritas mengemban amanah, dan kerendahatian. Namun permasalahan berlanjut adalah tatkala seorang pemimpin mendengar azan dari santri yang notabene adalah peserta didik dan mengalami kesalahan dalam mengalunkan azan, karena terbesit dalam hati atau benak bahwa penilaian masyarakat akan berkata bikin malu saja, sekelas pesantren kok azan Aja salah . padahal stigma tersebut jelas keliru, sekali lagi penulis katakan keliru, sebab yang azan perlu dipandang usianya, mereka rata rata usia belasan, jika memang diketahui salah dalam azan, maka hargailah prosesnya jangan menghakimi orangnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini